Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Kisah Unicorn Bertampang Boyolali

                 Beberapa bulan lalu, tepatnya di bulan November, di beberapa media sosial seperti Instagram dan Twitter, bermunculan tagar baru #SaveTampangBoyolali. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah pidato salah satu capres dalam acara peresmian tim suksesnya di Boyolali. Kata-kata tentang tampang Boyolali dan ujaran tentang warga Boyolali yang tidak punya tampang orang kaya dan bakal diusir kalau masuk hotel di Jakarta menuai banyak sekali komentar negatif dari netizen. Dan bermunculanlah berbagai macam postingan mengenai Tampang Boyolali ini, dimana postingan-postingan itu “mewadahi” berbagai macam adu argumen di kolom komentar.                    Apakah opini-opini yang dilempar netizen di kolom-kolom komentar itu bisa mempengaruhi citra capres yang bersangkutan? Jawabnnya sangat sangat lah bisa. Begitu d...

Konvergensi dan Bandar Oplosan

Hai Ho, apa kabar manusia-manusia maya.. Tema post kali ini adalah konvergensi media. Konvergensi media sendiri dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa jenis media yang tadinya terpisah ke dalam satu media. Seorang ahli bernama Henry Jenkins menjelaskan bahwa konvergensi media adalah aliran konten di beberapa platform media, kerjasama industri dengan media dan kegiatan migrasi media.       Jadi gimana, sudah jelas? Bila anda adalah seorang yang biasa saja cenderung lemot  dan gaptek , tenang saja, saya juga sama pusingnya. Berbekal pemahaman saya yang rada minim, saya akan coba bercerita tentang pengaruh si-konvergensi ini di kehidupan saya.  Cerita ini kumulai dengan game GTA dan masa SD ku yang penuh kenakalan remaja (?). Saya terlahir sebagai perempuan, namun karena lebih sering ditinggal mengurus toko oleh orang tuaku, ditambah rental PS Pakdheku yang jadi satu dengan toko banyak mengundang anak-anak yang tidak jelas pergaulannya, membu...

H I L A N G

Kamu tahu, apa yang paling menakutkan di dunia? Tidak punya uang jelas menakutkan. Rasa sepi pun bisa berbahaya bagi jiwa. Tapi, yang paling kutakuti adalah kehilangan "aku" Aku pernah hilang . Bukan secara harfiah, di mana secara fisik hilang entah kemana, bukan. Hilang yang kumaksud di sini adalah saat kamu tidak bisa mengenali duniamu sendiri, tidak bisa mengenali dirimu sendiri. Seumur hidup, aku selalu menjalani hidup dengan banyak ambisi dan tujuan. Aku suka menggambar - ralat - aku CINTA menggambar. Ambisiku semasa hidup juga tidak jauh dari menggambar. Maka, Dhara kecil rajin ikut lomba kesana kemari, hingga keluar kota, dan tidak pernah tidak bawa piala ke rumah, entah juara berapa pun itu. Dhara kecil juga bisa berubah menjadi pendendam saat tujuannya tidak tercapai, atau saat tahu ada anak yang lebih bisa mewarnai dan menggambar dengan baik dan benar. Maka dari itu, selesai lomba, ia selalu rajin keliling memperhatikan peserta lain; apa saja yang mereka ...

Gita dan Huruf "H"

Namaku Dara. Tanpa huruf "h". Walau kadang orang suka salah menulis Dhara pakai "h". Aku lebih sering membiarkannya, toh aku juga tidak masalah. Tapi kata Kakakku, Dara dan Dhara punya arti yang beda dalam bahasa sansekerta. Dara itu wanita, sedangkan Dhara itu bumi.Keluargaku sendiri lebih suka dengan Dara, tanpa "h". Mereka lebih suka aku menjadi wanita, dibanding menjadi bumi. Andai saja waktu lahir aku bisa request nama, bukannya menangis, aku ingin dinamai Gita Dhara. Atau Manggala Gita. Gita Dhara punya arti nyanyian bumi, sedangkan Manggala Gita artinya nyanyian yang indah. Gita Dhara Manggala? hem, keren juga. Entahlah, aku hanya sedikit terobsesi menjadi penyanyi walau tidak bisa nyanyi. Jadi kupikir, punya nama dengan arti seperti itu akan membantuku. Bodoh, memang. Tapi ya begitulah Dara, si tanpa "h". Jadi ya sudah, inilah aku, si Dara Dharmesti. Wanita Utama. Doakan aku bisa jadi yang utama dalam segala hal, sesuai harap...