Langsung ke konten utama

H I L A N G

Kamu tahu, apa yang paling menakutkan di dunia?
Tidak punya uang jelas menakutkan. Rasa sepi pun bisa berbahaya bagi jiwa. Tapi, yang paling kutakuti adalah kehilangan "aku"

Aku pernah hilang. Bukan secara harfiah, di mana secara fisik hilang entah kemana, bukan. Hilang yang kumaksud di sini adalah saat kamu tidak bisa mengenali duniamu sendiri, tidak bisa mengenali dirimu sendiri.

Seumur hidup, aku selalu menjalani hidup dengan banyak ambisi dan tujuan. Aku suka menggambar - ralat - aku CINTA menggambar. Ambisiku semasa hidup juga tidak jauh dari menggambar. Maka, Dhara kecil rajin ikut lomba kesana kemari, hingga keluar kota, dan tidak pernah tidak bawa piala ke rumah, entah juara berapa pun itu. Dhara kecil juga bisa berubah menjadi pendendam saat tujuannya tidak tercapai, atau saat tahu ada anak yang lebih bisa mewarnai dan menggambar dengan baik dan benar. Maka dari itu, selesai lomba, ia selalu rajin keliling memperhatikan peserta lain; apa saja yang mereka gunakan, melihat teknik-teknik baru, merekam semuanya dengan baik lalu mempraktekannya di rumah. Setiap hari tidak pernah tidak menggambar.

Di masa puber, Dhara beralih minat ke seni menulis. Segala bentuk karya tulis (kecuali puisi) ia pelajari. Dhara yang ambisius pun tidak ingin menjadi setengah-setengah di dunia baru ini. Ia rajin ikut berbagai lomba menulis, walau ia harus sering nongkrong ke warnet agar bisa mengetik. Ia juga mengikuti ajang tingkat provinsi dalam hal tulis. Walau ia tetap lebih mencintai menggambar dibanding menulis, namun ia juga tidak ingin menjadikan menulis hanya sekedar iseng-iseng menulis di kertas. Lelah mendua, ia merancang ambisi baru yang membuatnya tidak harus bimbang mau menekuni yang mana; ia ingin membuat komik.

Beranjak remaja, keinginannya masih sama, walau ia mulai melirik menjadi sutradara atau script wirter. Sama seperti sebelumnya, ia tidak ingin setengah-setengah. Berbagai rencana sudah dibuat, sampai rencana universitas mana yang akan ia masuki kelak, lantas menyiapkan berbagai portofolio untuk masuk ke ISI (Institut Seni Indonesia).

Semua itu, bukan karena ia sangat jenius hingga hidupnya bisa sangat sarat prestasi. Semuanya berkat satu orang di belakangnya, yang membentuknya menjadi manusia yang penuh mimpi : Ayah. Dan  mendadak beliau masuk ICU. Lalu Dhara belum dapat giliran membesuk. Lalu ia bisa membesuk, tapi saat Ayahnya meregang nyawa. Hanya tiga hal itu yang dapat ia ingat sekarang.

Dan hilang. Ayahnya pergi begitu saja, menjadi satu pukulan telak bagi anak tengahnya itu. Bersamaan dengan berpulangnya beliau, arah hidup Dhara juga ikut hilang, dan ia tidak tahu mengapa. Hari-hari selanjutnya ia jalani dengan frustasi. Ia tiba-tiba kehilangan kemampuan menggambar, ia tidak bisa merangkai kata yang bagus bahkan sekedar untuk caption foto temannya, ia bahkan berada dalma fase dimana ia bingung untuk apa ia hidup.

Itulah saat aku kehilangan aku. Setahun lebih aku terseok-seok tanpa gairah hidup, hanya ingin tidur sepanjang hari, tidak punya selera untuk beraktifitas, kehilangan hasrat untuk kuliah atau menyelesaikan ujian nasional dengan baik .....  seakan nyawaku ikut hilang bersama dengan Ayahku, dan ragaku jadi bingung hendak kemana sebab tidak ikut mati. Lupa cara tertawa, menjadi orang yang pesimis .... aku sama sekali tidak tahu lagi aku siapa. Rasa duka sebab kehilangan diriku saat itu melebihi rasa dukaku karena kehilangan Ayah. Tanpa sadar, hal itu jadi membuatku membenci kehidupanku, keluargaku, benci saat aku tidak diterima di ISI, benci semua hal yang terjadi dalam ceritaku.

Aku bersyukur, tahun-tahun kelam itu pergi berkat usaha keras keluargaku untuk mengembalikan aku. Pertemuanku dengan pacarku juga entah kenapa membuatku kembali. Perlahan aku mulai berani menggambar, walau masih sering mengalami tremor saat menggenggam pensil. Perlahan aku juga menata langkahku lagi, memberanikan diri untuk keluar dari persembunyian, belajar lagi dari 0 cara untuk bersosialisasi dengan orang lain yang - jujur, itu sangat sulit dan  menyiksa. Kadang aku masih tidak tahu harus bersikap seperti apa atau harus ngomong apa dengan orang lain saking lamanya aku menutup diri dengan dunia dan berkutat dengan depresiku sendiri. Tapi perlahan semuanya jadi mudah sebab teman-teman dan duniaku yang baru membantuku.

Maka pesan moral dari cerita ini adalah,

Genggam erat dirimu. Jangan dilepas. Tidak peduli seaneh apa cita-citamu, ambisimu, atau sifatmu, jangan pernah lepaskan. Sebab, akan sangat menakutkan bagimu waktu tahu kamu kehilangan segala yang melekat padamu, dan akan sangat susah untuk mengembalikannya kembali.

Satu lagi, seberat apa pun masalahmu, jangan merasa sendiri. Perhatikan dengan seksama sekelilingmu, masih banyak matahari-matahari kecil yang menghangatkan tata suryamu, dengan bentuk keluarga, teman, maupuj kekasih.


Be yourself, don't lose it.

Komentar

  1. Thanks dara. Cerita mu sangat memotivasi bagaimana rasanya bersyukur 😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gita dan Huruf "H"

Namaku Dara. Tanpa huruf "h". Walau kadang orang suka salah menulis Dhara pakai "h". Aku lebih sering membiarkannya, toh aku juga tidak masalah. Tapi kata Kakakku, Dara dan Dhara punya arti yang beda dalam bahasa sansekerta. Dara itu wanita, sedangkan Dhara itu bumi.Keluargaku sendiri lebih suka dengan Dara, tanpa "h". Mereka lebih suka aku menjadi wanita, dibanding menjadi bumi. Andai saja waktu lahir aku bisa request nama, bukannya menangis, aku ingin dinamai Gita Dhara. Atau Manggala Gita. Gita Dhara punya arti nyanyian bumi, sedangkan Manggala Gita artinya nyanyian yang indah. Gita Dhara Manggala? hem, keren juga. Entahlah, aku hanya sedikit terobsesi menjadi penyanyi walau tidak bisa nyanyi. Jadi kupikir, punya nama dengan arti seperti itu akan membantuku. Bodoh, memang. Tapi ya begitulah Dara, si tanpa "h". Jadi ya sudah, inilah aku, si Dara Dharmesti. Wanita Utama. Doakan aku bisa jadi yang utama dalam segala hal, sesuai harap...

Konvergensi dan Bandar Oplosan

Hai Ho, apa kabar manusia-manusia maya.. Tema post kali ini adalah konvergensi media. Konvergensi media sendiri dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa jenis media yang tadinya terpisah ke dalam satu media. Seorang ahli bernama Henry Jenkins menjelaskan bahwa konvergensi media adalah aliran konten di beberapa platform media, kerjasama industri dengan media dan kegiatan migrasi media.       Jadi gimana, sudah jelas? Bila anda adalah seorang yang biasa saja cenderung lemot  dan gaptek , tenang saja, saya juga sama pusingnya. Berbekal pemahaman saya yang rada minim, saya akan coba bercerita tentang pengaruh si-konvergensi ini di kehidupan saya.  Cerita ini kumulai dengan game GTA dan masa SD ku yang penuh kenakalan remaja (?). Saya terlahir sebagai perempuan, namun karena lebih sering ditinggal mengurus toko oleh orang tuaku, ditambah rental PS Pakdheku yang jadi satu dengan toko banyak mengundang anak-anak yang tidak jelas pergaulannya, membu...

Alasan Kita Mengumpat

Pagi ini saya awali dengan amarah yang meluap. Pertama, pegas per di kasur saya tampaknya bermasalah, membuat punggung saya jadi pegal-pegal. Kedua, anak-anak kampung yang ikut wifian di rumah saya sukses membuat kuping saya pekak.Mereka sudah nongkrong dari subuh, dan masih asyik teriak Booyah! sambil ngegame hingga detik saya menulis dan memposting tulisan ini. Belum lagi kampanye di jalan, hem, makin gurihlah pagi saya. Mengenai kampanye, jangan dibayangkan tentang orang-orang yang berkumpul jadi satu di lapangan untuk liat tokoh politik idolanya haha hihi di panggung. Kampanye, di daerah saya, sama saja dengan konvoi pakai motor, bawa bendera segede-gede gaban, pasang knlapot kaleng yang sekali digas, Naudzubillah sekali suaranya. *PERINGATAN! Tulisan ini mengandung 100% Opini penulis yang dilanda otot pegal dan urat kepala tegang. Harap maklum* Trengteng teng..Brum..Brum..Trengtengteng..Brum..Brum... Entah dari bendera banteng merah, atau garuda kuning, hing...