Langsung ke konten utama

Postingan

Gita Malam #prolog

Saya sering kesulitan tidur. Dan setiap kali saya sulit tidur, banyak sekali pikiran-pikiran yang berseliweran di otak saya. Kadang random  saja, seperti berfikir kenapa sate dinamain sate, atau mengapa instagram tidak dinamain instakilogram. Namun lebih sering saya ketakutan. Bukan takut setan, atau apa. Saya takut akan pikiran saya sendiri. Karena saat saya tidak bisa tidur, seluruh rasa trauma, ketakutan, dan kesepian yg pernah saya alami selama 20 tahun hidup, sekecil apapun itu, pasti akan teringat dan terekam kembali. Terlebih saya tidak pandai berkomunikasi dengan orang lain, jadi curhat mengenai ketakutan saya ke orang lain pun percuma untuk saya, sebab saya jadi punya ketakutan baru karena ketidakpandaian saya memberi reaksi saat sedang berkomunikasi dengan orang. Makanya saya lebih nyaman menulis. Saya bisa mencurahkan apa yg saya mau katakan tanpa disela reaksi orang, dan tanpa saya harus memberi feedback langsung pada mereka.  Ah, membosankan ya? Hehehehe In...
Postingan terbaru

"Kita ini insan, bukan seekor sapi.."

Jaman sudah semakin modern. Tuntutan menjadi manusia pun semakin tinggi. Ada banyak peralatan dan teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan seseorang, sebab dalam satu alat pun kita sudah bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus. Bagi perusahaan perusahaan yang mencari keuntungan, penggunaan teknologi dan alat jelas sangat menguntungkan, karena berbeda dengan menggaji satu manusia untuk satu pekerjaan saja, dengan teknologi perusahaan hanya cukup membayar satu device untuk banyak pekerjaan. Hal itu jelas mempengaruhi pekerjaan para buruh, tak terkecuali para jurnalis. Logika pasar yang bermain di era sekarang menuntut jurnalis untuk seperti alat teknologi, untuk bisa multitasking. Sebab, bagi pihak perusahaan tak terkecuali perusahaan media,  akan lebih menguntungkan bila bisa menggaji satu orang yang -  mungkin -  bisa diperah bagai sapi untuk melakukan banyak pekerjaan yang -  bisa jadi -  bukan job desk mereka yang sebenarnya. Bila tidak bisa menja...

Era Baru Jurnalistik - Jurnalis Terancam Nganggur?

Tidak bisa dipungkiri, di jaman serba canggih, apapun bisa dibuat . Segala hal yang bersifat "memudahkan manusia" ramai diciptakan, sehingga kinerja manusia semakin efektif dan tidak memerlukan proses panjang. Sebutlah pekerjaan menjadi pelayan restoran,- tentu sangat melelahkan untuk dilakukan- maka diciptakanlah robot yang di buat khusus untuk melayani pelanggan di restoran. Ditambah, semakin berkembangnya Artificial Itelligent membuat segalanya berubah, tak terkecuali dunia jurnalistik. Jurnalis masa kini mungkin akan semakin dimudahkan pekerjaannya berkat adanya robo-journalism, yaitu sebuah terobosan baru dimana jurnalis tidak perlu repot-repot menulis berita; cukup memasukan unsur-unsur berita yang diinginkan ke dalam sistem dengan algoritma khusus, lalu secara otomatis akan muncul artikel berita yang lengkap. Lebih lanjut, berita-berita yang berkesinambugan dapat dikumpulkan menjadi satu sehingga terasa lebih kuat dan personal bagi pembaca (Sharman,2005).Kemunculan s...

"Orkes Pensil Alis - Best Of The Best" Review

Saya punya kawan satu kos an yang hobi nonton Stand Up Comedy. Suatu hari, saat kita berdua sedang santai nonton YouTube, iseng dia menunjukan satu band yang semua personilnya adalah Stand Up Comedian. Orkes Pensil Alis, namanya. Menggelitik memang, tapi sebab hasrat melecehkan saya saat itu sedang tinggi, saya anggap band ini hanya band kacang-kacangan. Ah, paling project iseng-isengnya para komika saja. Orkes Pensil Alis digawangi oleh Hifdzi Khoir ( vokal ), MuktiEntut ( vokal ), Al Kautsar ( gitar ), Hisdan ( gitar ), Binasrul ( perkusi ) dan terakhir Satito (drum) . Dari artikel yang saya baca, mereka terbentuk tahun 2013 dan awalnya hanya band iseng-iseng untuk mengisi acara ulang tahun Anang Batas, salah satu komika Indonesia. Makin tidak tertariklah saya dengan band ini. Lalu malam ini saya mendapat kesempatan mendengarkan salah satu album mereka yang bertajuk “Best of The Best”. Siapa sangka, saya malah jatuh cinta? Alasan pertama saya suka dengan album i...

Alasan Kita Mengumpat

Pagi ini saya awali dengan amarah yang meluap. Pertama, pegas per di kasur saya tampaknya bermasalah, membuat punggung saya jadi pegal-pegal. Kedua, anak-anak kampung yang ikut wifian di rumah saya sukses membuat kuping saya pekak.Mereka sudah nongkrong dari subuh, dan masih asyik teriak Booyah! sambil ngegame hingga detik saya menulis dan memposting tulisan ini. Belum lagi kampanye di jalan, hem, makin gurihlah pagi saya. Mengenai kampanye, jangan dibayangkan tentang orang-orang yang berkumpul jadi satu di lapangan untuk liat tokoh politik idolanya haha hihi di panggung. Kampanye, di daerah saya, sama saja dengan konvoi pakai motor, bawa bendera segede-gede gaban, pasang knlapot kaleng yang sekali digas, Naudzubillah sekali suaranya. *PERINGATAN! Tulisan ini mengandung 100% Opini penulis yang dilanda otot pegal dan urat kepala tegang. Harap maklum* Trengteng teng..Brum..Brum..Trengtengteng..Brum..Brum... Entah dari bendera banteng merah, atau garuda kuning, hing...

Kisah Unicorn Bertampang Boyolali

                 Beberapa bulan lalu, tepatnya di bulan November, di beberapa media sosial seperti Instagram dan Twitter, bermunculan tagar baru #SaveTampangBoyolali. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah pidato salah satu capres dalam acara peresmian tim suksesnya di Boyolali. Kata-kata tentang tampang Boyolali dan ujaran tentang warga Boyolali yang tidak punya tampang orang kaya dan bakal diusir kalau masuk hotel di Jakarta menuai banyak sekali komentar negatif dari netizen. Dan bermunculanlah berbagai macam postingan mengenai Tampang Boyolali ini, dimana postingan-postingan itu “mewadahi” berbagai macam adu argumen di kolom komentar.                    Apakah opini-opini yang dilempar netizen di kolom-kolom komentar itu bisa mempengaruhi citra capres yang bersangkutan? Jawabnnya sangat sangat lah bisa. Begitu d...

Konvergensi dan Bandar Oplosan

Hai Ho, apa kabar manusia-manusia maya.. Tema post kali ini adalah konvergensi media. Konvergensi media sendiri dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa jenis media yang tadinya terpisah ke dalam satu media. Seorang ahli bernama Henry Jenkins menjelaskan bahwa konvergensi media adalah aliran konten di beberapa platform media, kerjasama industri dengan media dan kegiatan migrasi media.       Jadi gimana, sudah jelas? Bila anda adalah seorang yang biasa saja cenderung lemot  dan gaptek , tenang saja, saya juga sama pusingnya. Berbekal pemahaman saya yang rada minim, saya akan coba bercerita tentang pengaruh si-konvergensi ini di kehidupan saya.  Cerita ini kumulai dengan game GTA dan masa SD ku yang penuh kenakalan remaja (?). Saya terlahir sebagai perempuan, namun karena lebih sering ditinggal mengurus toko oleh orang tuaku, ditambah rental PS Pakdheku yang jadi satu dengan toko banyak mengundang anak-anak yang tidak jelas pergaulannya, membu...