Saya sering kesulitan tidur. Dan setiap kali saya sulit tidur, banyak sekali pikiran-pikiran yang berseliweran di otak saya. Kadang random saja, seperti berfikir kenapa sate dinamain sate, atau mengapa instagram tidak dinamain instakilogram. Namun lebih sering saya ketakutan. Bukan takut setan, atau apa. Saya takut akan pikiran saya sendiri. Karena saat saya tidak bisa tidur, seluruh rasa trauma, ketakutan, dan kesepian yg pernah saya alami selama 20 tahun hidup, sekecil apapun itu, pasti akan teringat dan terekam kembali. Terlebih saya tidak pandai berkomunikasi dengan orang lain, jadi curhat mengenai ketakutan saya ke orang lain pun percuma untuk saya, sebab saya jadi punya ketakutan baru karena ketidakpandaian saya memberi reaksi saat sedang berkomunikasi dengan orang. Makanya saya lebih nyaman menulis. Saya bisa mencurahkan apa yg saya mau katakan tanpa disela reaksi orang, dan tanpa saya harus memberi feedback langsung pada mereka. Ah, membosankan ya? Hehehehe In...
Jaman sudah semakin modern. Tuntutan menjadi manusia pun semakin tinggi. Ada banyak peralatan dan teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan seseorang, sebab dalam satu alat pun kita sudah bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus. Bagi perusahaan perusahaan yang mencari keuntungan, penggunaan teknologi dan alat jelas sangat menguntungkan, karena berbeda dengan menggaji satu manusia untuk satu pekerjaan saja, dengan teknologi perusahaan hanya cukup membayar satu device untuk banyak pekerjaan. Hal itu jelas mempengaruhi pekerjaan para buruh, tak terkecuali para jurnalis. Logika pasar yang bermain di era sekarang menuntut jurnalis untuk seperti alat teknologi, untuk bisa multitasking. Sebab, bagi pihak perusahaan tak terkecuali perusahaan media, akan lebih menguntungkan bila bisa menggaji satu orang yang - mungkin - bisa diperah bagai sapi untuk melakukan banyak pekerjaan yang - bisa jadi - bukan job desk mereka yang sebenarnya. Bila tidak bisa menja...