Tidak bisa dipungkiri, di jaman serba canggih, apapun bisa dibuat . Segala hal yang bersifat "memudahkan manusia" ramai diciptakan, sehingga kinerja manusia semakin efektif dan tidak memerlukan proses panjang. Sebutlah pekerjaan menjadi pelayan restoran,- tentu sangat melelahkan untuk dilakukan- maka diciptakanlah robot yang di buat khusus untuk melayani pelanggan di restoran. Ditambah, semakin berkembangnya Artificial Itelligent membuat segalanya berubah, tak terkecuali dunia jurnalistik.
Jurnalis masa kini mungkin akan semakin dimudahkan pekerjaannya berkat adanya robo-journalism, yaitu sebuah terobosan baru dimana jurnalis tidak perlu repot-repot menulis berita; cukup memasukan unsur-unsur berita yang diinginkan ke dalam sistem dengan algoritma khusus, lalu secara otomatis akan muncul artikel berita yang lengkap. Lebih lanjut, berita-berita yang berkesinambugan dapat dikumpulkan menjadi satu sehingga terasa lebih kuat dan personal bagi pembaca (Sharman,2005).Kemunculan sistem algoritma dalam robo-journalism ini dapat mempermudah pembaca "memetakan" ataupun "mengumpulkan" berita-berita yang sesuai preferensinya, sehingga terasa lebih personal. Secara otomatis, saat seorang pembaca sering mengakses jenis berita tertentu, maka portal berita akan memberi rekomendasi berbagai berita yang sesuai atau mirip dengan berita yang sering ia akses. Atau memungkinkan seseorang untuk membaca perkembangan sebuah kasus berita dari awal pemberitaan hingga akhir dengan mudah, sesuai dengan pernyataan Sharman dalam thesis milik Sena Aljazairi,
Walau pun untuk sekarang, Robo Journalism hanya bisa digunakan untuk membuat berita-berita dengan variabel tetap seperti halnya berita bencana gempa (yang mungkin dimanapun berita itu muncul tetap saja variabel seperti berapa skala gempa dan berapa korban jiwa yang diberitakan), namun muncul kekhawatiran bahwa robo jurnalisme akan menggeser peran jurnalis itu sendiri. Benarkah?
Andreas Graefe (2016) dari Universitas Munich, telah melakukan penelitian terkait apakah teks yang dihasilkan sistem akan bisa mengalahkan hasil tulisan tangan manusia sendiri? Dan hasilnya, sama seperti penelitian lainnya yang serupa, menyatakan bahwa kredibilitas artikel yang dibuat mesin memang diatas artikel buatan manusia. Mungkin disebabkan karena rendahnya human error yang bisa saja terjadi. Namun tetap saja, unsur kesenangan dari keindahan rangkaian kata yang dihasilkan tetap tidak akan bisa mengalahkan hasil buatan manusia. Manusia bisa menuliskan artikel berita secara dinamis, berbeda dengan mesin yang hanya menulis berita berdasarkan sistem yan sudah disusun sebelumnya, sehingga terkesan statis dan kaku. Maka dari itu, untuk saat ini hanya bisa diterapkan pada berita-berita yang memang statis dan tidak memerlukan banyak permainan kata seperti berita bencana, berita bursa saham, dan sebagainya.
Menilik dari fakta tersebut, maka jurnalis sendiri masih memiliki peluang besar dalam dunia jurnalisme. Sejauh ini peran robot tetap saja hanya sebagai sarana untuk mempermudah, belum bisa menggantikan pern jurnalis secara keseluruhan. Walau, menilik dari betapa gilanya perkembangan teknologi sekarang, buka tidak mungkin robot akan menggantikan keseluruhan peran jurnalis dalam menulis berita.
Meski begitu, kesalahan tetap saja memungkinkan terjadi. Bukankah sistem sendiri juga merupakan buah tangan dari manusia? Bisa jadi kesalahan dalam perancangan algortima akan mempengaruhi berita yang meuncul sehingga tetap terjadi unsur kesalahan dalam berita. Meski begitu, tetap saja, dibandingkan ditulis oleh jurnalis sendiri, human error dalam penulisan tetap terhitung lebih sedikit.
Jadi, tetaplah mengembangkan skill menjadi jurnalis, sebab tetap dibutuhkan campur tangan jurnalis dalam pembuatan berita. Ingat, teknologi hanya memudahkan, bukan menggantikan. Kontrol tetap ada pada manusia.
referensi :
Aljazairi,Sena.(2016).Robot Journalism : Threat or an Opportunity.MA thesis Journalism Connected Orebro University.https://www.diva-portal.org/smash/get/diva2:938024/FULLTEXT01.pdf
Prasetyafisip.(2018).Peran Manusia Tidak Sepenuhnya Terganti oleh Robotic Jurnalism.Humas Fisip UBniversitas Brawijaya dalam diva portal. https://www.diva-portal.org/smash/get/diva2:938024/FULLTEXT01.pdf
Jurnalis masa kini mungkin akan semakin dimudahkan pekerjaannya berkat adanya robo-journalism, yaitu sebuah terobosan baru dimana jurnalis tidak perlu repot-repot menulis berita; cukup memasukan unsur-unsur berita yang diinginkan ke dalam sistem dengan algoritma khusus, lalu secara otomatis akan muncul artikel berita yang lengkap. Lebih lanjut, berita-berita yang berkesinambugan dapat dikumpulkan menjadi satu sehingga terasa lebih kuat dan personal bagi pembaca (Sharman,2005).Kemunculan sistem algoritma dalam robo-journalism ini dapat mempermudah pembaca "memetakan" ataupun "mengumpulkan" berita-berita yang sesuai preferensinya, sehingga terasa lebih personal. Secara otomatis, saat seorang pembaca sering mengakses jenis berita tertentu, maka portal berita akan memberi rekomendasi berbagai berita yang sesuai atau mirip dengan berita yang sering ia akses. Atau memungkinkan seseorang untuk membaca perkembangan sebuah kasus berita dari awal pemberitaan hingga akhir dengan mudah, sesuai dengan pernyataan Sharman dalam thesis milik Sena Aljazairi,
Walau pun untuk sekarang, Robo Journalism hanya bisa digunakan untuk membuat berita-berita dengan variabel tetap seperti halnya berita bencana gempa (yang mungkin dimanapun berita itu muncul tetap saja variabel seperti berapa skala gempa dan berapa korban jiwa yang diberitakan), namun muncul kekhawatiran bahwa robo jurnalisme akan menggeser peran jurnalis itu sendiri. Benarkah?
Andreas Graefe (2016) dari Universitas Munich, telah melakukan penelitian terkait apakah teks yang dihasilkan sistem akan bisa mengalahkan hasil tulisan tangan manusia sendiri? Dan hasilnya, sama seperti penelitian lainnya yang serupa, menyatakan bahwa kredibilitas artikel yang dibuat mesin memang diatas artikel buatan manusia. Mungkin disebabkan karena rendahnya human error yang bisa saja terjadi. Namun tetap saja, unsur kesenangan dari keindahan rangkaian kata yang dihasilkan tetap tidak akan bisa mengalahkan hasil buatan manusia. Manusia bisa menuliskan artikel berita secara dinamis, berbeda dengan mesin yang hanya menulis berita berdasarkan sistem yan sudah disusun sebelumnya, sehingga terkesan statis dan kaku. Maka dari itu, untuk saat ini hanya bisa diterapkan pada berita-berita yang memang statis dan tidak memerlukan banyak permainan kata seperti berita bencana, berita bursa saham, dan sebagainya.
Menilik dari fakta tersebut, maka jurnalis sendiri masih memiliki peluang besar dalam dunia jurnalisme. Sejauh ini peran robot tetap saja hanya sebagai sarana untuk mempermudah, belum bisa menggantikan pern jurnalis secara keseluruhan. Walau, menilik dari betapa gilanya perkembangan teknologi sekarang, buka tidak mungkin robot akan menggantikan keseluruhan peran jurnalis dalam menulis berita.
Meski begitu, kesalahan tetap saja memungkinkan terjadi. Bukankah sistem sendiri juga merupakan buah tangan dari manusia? Bisa jadi kesalahan dalam perancangan algortima akan mempengaruhi berita yang meuncul sehingga tetap terjadi unsur kesalahan dalam berita. Meski begitu, tetap saja, dibandingkan ditulis oleh jurnalis sendiri, human error dalam penulisan tetap terhitung lebih sedikit.
Jadi, tetaplah mengembangkan skill menjadi jurnalis, sebab tetap dibutuhkan campur tangan jurnalis dalam pembuatan berita. Ingat, teknologi hanya memudahkan, bukan menggantikan. Kontrol tetap ada pada manusia.
referensi :
Aljazairi,Sena.(2016).Robot Journalism : Threat or an Opportunity.MA thesis Journalism Connected Orebro University.https://www.diva-portal.org/smash/get/diva2:938024/FULLTEXT01.pdf
Prasetyafisip.(2018).Peran Manusia Tidak Sepenuhnya Terganti oleh Robotic Jurnalism.Humas Fisip UBniversitas Brawijaya dalam diva portal. https://www.diva-portal.org/smash/get/diva2:938024/FULLTEXT01.pdf
Komentar
Posting Komentar