Jaman sudah semakin modern. Tuntutan menjadi manusia pun semakin tinggi. Ada banyak peralatan dan teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan seseorang, sebab dalam satu alat pun kita sudah bisa menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus. Bagi perusahaan perusahaan yang mencari keuntungan, penggunaan teknologi dan alat jelas sangat menguntungkan, karena berbeda dengan menggaji satu manusia untuk satu pekerjaan saja, dengan teknologi perusahaan hanya cukup membayar satu device untuk banyak pekerjaan. Hal itu jelas mempengaruhi pekerjaan para buruh, tak terkecuali para jurnalis. Logika pasar yang bermain di era sekarang menuntut jurnalis untuk seperti alat teknologi, untuk bisa multitasking. Sebab, bagi pihak perusahaan tak terkecuali perusahaan media, akan lebih menguntungkan bila bisa menggaji satu orang yang - mungkin - bisa diperah bagai sapi untuk melakukan banyak pekerjaan yang - bisa jadi - bukan job desk mereka yang sebenarnya. Bila tidak bisa menjadi manusia fleksibel, serba bisa dan penuh bakat, peluang untuk didepak akan semakin besar.
Ya, memang sudah begitu jamannya. Lantas, apa hal itu juga berlaku untuk jurnalis-jurnalis di Indonesia? Menurut saya, memang sebagian besar jurnalis saat ini mendapat tuntutan untuk serba bisa, terutama di media media online yang menuntut terbitnya berita secara cepat dan selalu aktual. Namun, masih banyak media media yang memegang prinsip "kualitas diatas kuantitas", sehingga masih mementingkan kualitas berita yang diciptakan sehingga jurnalis pun tidak "diperah" dengan sangat parah hingga harus mengerjakan hal-hal yang seharusnya bukan bagian pekerjaannya. Jurnalis jurnalis di Indonesia masih bisa untuk menerapkan idealismenya dalam memproduksi berita. Begitu pula dalam produksi sebuah surat kabar. Contohnya adalah surat kabar "Harian Radar Banten" , dimana pemilik modal usaha masih menekan para pekerjanya untuk memegang teguh kode etik jurnalistik, dan memberi keleluasaan pekerjanya untuk menjalankan
strategi bisnis perusahaan, target dan
capaian perusahaan yang
dikondisikan sesuai dengan kemampuan
para pekerjanya. Dalam operasional perusahaan sehari hari juga diserahkan kepada struktur organisasi keredaksian, dimana menunjukan masih terjaganya pengaturan job desk dalam produksi berita di dalam Harian Radar Banten. Hal ini menunjukan, tidak semua perusahaan menekan para jurnalis untuk bisa melakukan apa saja dan membuat mereka mengabaikan kehidupan pribadi mereka, namun menjadi serba bisa tetap merupakan sebuah keistimewaan sendiri di mata perusahaan.
Lalu, bagaimana dengan media yang sering update seperti media online? Tirto.is bisa menjadi salah satu contoh media online yang mendobrak konsep logika jangka pendek yang menuntut produksi media yang cepat dalam waktu singkat, namun kadang melupakan kualitas berita yang muncul. Tirto.id muncul sebagai salah satu media online yang aktual dan update, namun tetap memegang akurasi data, kedalaman berita, dan hal-hal yang mendukung terciptanya berita yang berkualitas. Sehingga, jurnalis pun tetap tidak kehilangan "makna" mereka sebagai jurnalis.
Itulah analisis singkat saya mengenai keadaan jurnalis saat ini. tulisan ini jelas sangat subjektif, dan belum didukung riset serta analisis yang kuat. Meski begitu, saya berharap tulisan ini dapat menjadi ajang bagi calon-calon jurnalis untuk selalu menerapkan pikiran bahwa kita boleh menjadi serba bisa, namun skill utama kita menjadi jurnalis tetaplah yang dibutuhkan dan dicari perusahaan media.
Daftar Pustaka
Ciptadi, Suluh Gembyeng, Ade Amando. 2018."Upaya Agensi Melawan Logika Jangka Pendek Jurnalisme Daring : Studi Kasus Tirto.id" dalam http://journal.ui.ac.id/index.php/jkmi/article/view/9690 diakses pada 26 Mei 2018 pukul 13:38 WIB
Istarno, Rina. "Kekuasaan Pemilik Modal dalam Struktur Kapitalisme Media : Studi Ekonomi Politik Produksi Konten Surat Kabar Radar Banten" dalam
http://e-jurnal.lppmunsera.org/index.php/LONTAR/article/view/332 diakses pada 26 Mei 2018 pukul 13:38 WIB

Komentar
Posting Komentar