Beberapa bulan lalu, tepatnya di bulan November, di beberapa media sosial seperti Instagram dan Twitter, bermunculan tagar baru #SaveTampangBoyolali. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah pidato salah satu capres dalam acara peresmian tim suksesnya di Boyolali. Kata-kata tentang tampang Boyolali dan ujaran tentang warga Boyolali yang tidak punya tampang orang kaya dan bakal diusir kalau masuk hotel di Jakarta menuai banyak sekali komentar negatif dari netizen. Dan bermunculanlah berbagai macam postingan mengenai Tampang Boyolali ini, dimana postingan-postingan itu “mewadahi” berbagai macam adu argumen di kolom komentar.
Apakah opini-opini
yang dilempar netizen di kolom-kolom komentar itu bisa mempengaruhi citra
capres yang bersangkutan? Jawabnnya sangat sangat lah bisa. Begitu dahsyat dan
kuat pengaruh opini netizen hingga bisa mempersuasi dan menggerakan pikiran
orang lain, yang mungkin, tadinya tidak tahu apa-apa jadi ikut berpikiran yang
sama; dan parahnya; mungkin jadi ikut menjatuhkan salah satu pihak.
Jujur, saat saya harus mengangkat topik tentang ruang publik dan pengaruhnya
terhadap kehidupan politik Indonesia, saya seidkit kebingungan. Bagaimana
tidak, seorang Dhara yang wawasan politiknya Nol besar ini tiba-tiba disuruh
mencari contoh tentang fenomena ruang publik, ditambah harus menjelaskan
pengaruhnya. Ya jelas kelabakan! Saya yang seumur-umur menggunakan sosmed hanya
untuk lihat tutorial make up sama menggambar mana paham tentang isu politik.
Lalu tiba-tiba teman saya memberi wangsit agar saya memulai pemahaman saya
mengenai ruang publik dari “Tampang Boyolali” ini. Asyiklah saya menyimak
berbagai macam postingan dan komentar dari netizen tentang tragedi Tampang Boyolali
ini, dan walhasil, saya jadi ikut-ikutan gemas dengan si capres ini.
Eits, bukan berarti saya mendukung capres sebelah lo, bukan. Bukan juga
saya pro dengan capres berinisial P ini. Pilihan saya tetap saja rahasia hehe.
Maksut saya, sebegitu besar pengaruh “kritik-kritik gurih” netizen ini dalam
mempengaruhi otak saya yang pemahamannya kosong soal politik. Untung saya
adalah orang yang bisa berpikir jernih (ceilah). Sehingga diri ini tidak serta
merta menerima segala ujaran kebencian itu menjadi dasar pilihan saya. Bisa
dibayangkan, kalau salah satu pembaca kritik gurih itu adalah pendukung garis
keras paslon sebelah, Beeeeeh, kacau
sudah!
Tragedi lain, adalah
tentang Unicorn. Mungkin memang tidak se-kontroversial Tampang Boyolali, namun
paslon berinisial P cukup jadi bahan bual-bualan sebab sempat miss sebentar tentang Unicorn yang
online-online. Walaupun, lebih banyak netizen yang ikut bertanya-tanya apa itu
Unicorn, dan lebih banyak bermunculan postingan yang menjelaskan tentang Unicorn itu
sendiri dibanding olokan kepada pak capres.
Kedua contoh itu adalah bukti bahwa media jaman sekarang memberi banyak
ruang publik bagi masyarakat untuk berdiskusi dan saling berkritik ria mengenai
fenomena yang ada, terutama fenomena politik. Namun sayangnya, ruang publik yang
seharusnya diisi dengan diskusi yang dingin dan obyektif malah lebih banyak
terasa panas karena diisi dengan adu argumen yang kadang subyektif dan memihak.
Padahal, media ada tidak hanya untuk menyediakan ruang publiknya saja, namun
juga untuk mengembangkan kemampuan bermusyawarah dan berkomunikasi dalam forum
yang baik bagi tiap penggunanya. Sepanjang yang saya lihat, Di Indonesia media
sudah berhasil menyediakan wadahnya,namun masih kurang bisa mengedukasi penggunanya agar tidak
cepat panas dan asal jeplak. Pemahaman bahwa “menkkritik boleh, ngotot jangan” masih terasa kurang. Padahal,
ruang publik yang baik tidak akan tercapai kalau masih ada unsur saling
memaksakan argumen atau menggunakan bahasa-bahasa yang terkesan memihak dan
penuh emosi.
Indonesia itu negara musyawarah, bukan negara asal bicara. Bijaklah berujar dalam ruang publik yang ada.

Komentar
Posting Komentar