Langsung ke konten utama

Konvergensi dan Bandar Oplosan

Hai Ho, apa kabar manusia-manusia maya..

Tema post kali ini adalah konvergensi media. Konvergensi media sendiri dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa jenis media yang tadinya terpisah ke dalam satu media. Seorang ahli bernama Henry Jenkins menjelaskan bahwa konvergensi media adalah aliran konten di beberapa platform media, kerjasama industri dengan media dan kegiatan migrasi media. 
     Jadi gimana, sudah jelas? Bila anda adalah seorang yang biasa saja cenderung lemot dan gaptek, tenang saja, saya juga sama pusingnya. Berbekal pemahaman saya yang rada minim, saya akan coba bercerita tentang pengaruh si-konvergensi ini di kehidupan saya. 

Cerita ini kumulai dengan game GTA dan masa SD ku yang penuh kenakalan remaja (?). Saya terlahir sebagai perempuan, namun karena lebih sering ditinggal mengurus toko oleh orang tuaku, ditambah rental PS Pakdheku yang jadi satu dengan toko banyak mengundang anak-anak yang tidak jelas pergaulannya, membuat saya jadi sedikit lepas kendali. Pulang sekolah bukannya lepas seragam, makan, lalu bobo cantik seperti umumnya anak SD, atau  lanjut belajar untuk ujian (karena sudah kelas 5 SD), aku lebih memilih masuk ke rentalan dan berjaga disana. Karena Pakdheku malas menyewa orang untuk jaga rentalan, dan kebetulan keponakannya juga doyan ke rentalan, jadilah saya karyawan rental. Dengan upah Rp 20.000,- tugas saya hanyalah menyetel menitan di TV yang akan dimainkan orang, atau mengantarkan "kitab" cheat GTA, dan jadi kasir lalu mencatat siapa saja yang masuk serta berapa jam mereka bermain. Untuk upah diatas UMR anak SD yang hanya seribu rupiah, pekerjaanku sungguh mudah. Ditambah lagi, kalau rentalan sedang sepi, aku bebas bermain game apa saja yang ada di situ.

Konsekuensinya adalah, kuping saya jadi sebelas duabelas dengan Dumbo - terimakasih pada tangan Ibu saya yang setia menjewer - karena seharian kuhabiskan cuma di rentalan dan main PS. Dampak lainnya adalah, saya jadi bergaul dengan anak-anak nakal yang menghabiskan waktu untuk main PS dan membahas harga oplosan terbaru.

Karena saya satu-satunya perempuan, dan paling kecil nan polos diantara mereka, walhasil saya didaulat menjadi runner bagi mereka (baca : jongos tak berupah). Tugas saya adalah menemui bandar ciu (nama jenis oplosan) dan mengambilnya, serta menanyakan perkembangan terbaru mengenai dunia per-ciu-an itu. Saya yang waktu itu dibohongi bahwa ciu itu semacam teh langka dari luar negeri santai saja melaksanakan tugas. Tugas saya selain jadi perantara ciu, adalah sebagai informan mengenai cheat dan teknik terbaru bagi berbagai macam game; GTA, Most Wanted, Bully, Guitar Hero, dan semacamnya. Akhirnya, uang 20.000 saya ludes hanya untuk pergi ke rental pengetikan untuk internetan, karena dulu yang punya komputer dan internet hanya mas-mas rental itu saja. 

Waktu bergulir, akhirnya saya lulus SD dengan nilai mengenaskan sebab terlalu candu main PS. Pakdhe saya menutup usaha PS nya karena sudah banyak bermunculan warnet, dimana duduk berjam-jam kita sudah bisa gonta-ganti game, sekalian browsing cheat terbarunya. Tidak perlu repot-repot menyuruh gadis kelas 5 SD ke rentalan lagi. Di warnet juga disediakan warung kecil-kecilan dimana kita bisa tinggal teriak minta kopi atau coca-cola kalau haus, dan penjaga warnetnya akan mengantarkan. Tapi, sebagai anak yang tadinya bergaji diatas UMR, aku mendadak jadi pengangguran dan pendapatanku minus karena habis untuk bermain game di warnet. Hal itu semata karena aku belum punya handphone, dan tidak ingin ketinggalan obrolan tentang "status-terbaru-idola-kelas-di-facebook." Sungguh, bagi anak yang belum punya hape, obrolan tentang facebook membuat saya terasinh.

Untungnya, kelas 2 SMP, aku punya handphoneku sendiri. Sebuah handphone Evercross mini warna hijau mint, yang kalau dinyalakan bunyinya menggegerkan satu kelas, dan bisa untuk mengakses web serta m.facebook.com.  Yang tadinya kalau mengerjakan tugas harus nongkrong berjam-jam di perpusda untuk cari buku, sekarang bisa lewat handphone. Benar-benar sebuah penyegaran bagi remaja dengan "upah" hanya 10.000 perharinya. Bye bye warnet, terimakasih peradaban. 

Semakin kesini, ku bisa berbangga hati karena sudah move on dari PS. Kini kumenemukan cinta baruku, smartphone. Dia adalah karya terindah yang diciptakan manusia, membuatku jatuh cinta setengah hidup. Kemunculan "anak" baruku semakin membuat hidup lebih harmonis, yaitu laptop HP warna merah hasil persilangan Dara dan program cicilan laptop Bidikmisi. Keduanya sangat aku sayangi, sebab membantu sekali dalam kehidupan. Mau main game pun kini tidak perlu lagi dijewer seperti dulu, sebab di tab lain bisa sekalian browsing materi. Atau cheat terbaru game online. Atau sambil menyelam minum air membuka aplikasi Whatssapp yang - andai saja- sudah ada dari dulu, saya bisa lebih mudah janjian cod dengan mas bandar Ciu.

Ya, sekian saja gambaran singkat tentang konvergensi ini. Intinya, berterimakasihlah pada para profesor diluar sana yang membuat smartphone lahir ke dunia. Sebab segala hal yang tadinya harus dilakukan manual dan terpisah (sms pake hape, ngerjain tugas harus ke warnet, cheat game harus ditulis dan dibuat kitab tersendiri) kini ada di satu kotak tipis bernama smartphone. Bahkan canggihnya, sekarang tidak perlu menggelar alat lukis dan radio tape lagi, tapi dengan satu smartphone saja bisa menggambar sambil mendengarkan musik sekaligus.

Ralat, Hape. Iya maaf, saya lupa anda semua alergi istilah asing.

Pesan saya, syukuri dan pergunakan dengan baik teknologi yang ada. Eh, satu lagi. Jangan salah pilih pergaulan.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gita dan Huruf "H"

Namaku Dara. Tanpa huruf "h". Walau kadang orang suka salah menulis Dhara pakai "h". Aku lebih sering membiarkannya, toh aku juga tidak masalah. Tapi kata Kakakku, Dara dan Dhara punya arti yang beda dalam bahasa sansekerta. Dara itu wanita, sedangkan Dhara itu bumi.Keluargaku sendiri lebih suka dengan Dara, tanpa "h". Mereka lebih suka aku menjadi wanita, dibanding menjadi bumi. Andai saja waktu lahir aku bisa request nama, bukannya menangis, aku ingin dinamai Gita Dhara. Atau Manggala Gita. Gita Dhara punya arti nyanyian bumi, sedangkan Manggala Gita artinya nyanyian yang indah. Gita Dhara Manggala? hem, keren juga. Entahlah, aku hanya sedikit terobsesi menjadi penyanyi walau tidak bisa nyanyi. Jadi kupikir, punya nama dengan arti seperti itu akan membantuku. Bodoh, memang. Tapi ya begitulah Dara, si tanpa "h". Jadi ya sudah, inilah aku, si Dara Dharmesti. Wanita Utama. Doakan aku bisa jadi yang utama dalam segala hal, sesuai harap...

Alasan Kita Mengumpat

Pagi ini saya awali dengan amarah yang meluap. Pertama, pegas per di kasur saya tampaknya bermasalah, membuat punggung saya jadi pegal-pegal. Kedua, anak-anak kampung yang ikut wifian di rumah saya sukses membuat kuping saya pekak.Mereka sudah nongkrong dari subuh, dan masih asyik teriak Booyah! sambil ngegame hingga detik saya menulis dan memposting tulisan ini. Belum lagi kampanye di jalan, hem, makin gurihlah pagi saya. Mengenai kampanye, jangan dibayangkan tentang orang-orang yang berkumpul jadi satu di lapangan untuk liat tokoh politik idolanya haha hihi di panggung. Kampanye, di daerah saya, sama saja dengan konvoi pakai motor, bawa bendera segede-gede gaban, pasang knlapot kaleng yang sekali digas, Naudzubillah sekali suaranya. *PERINGATAN! Tulisan ini mengandung 100% Opini penulis yang dilanda otot pegal dan urat kepala tegang. Harap maklum* Trengteng teng..Brum..Brum..Trengtengteng..Brum..Brum... Entah dari bendera banteng merah, atau garuda kuning, hing...